Archive for 2016

Jakarta

Sabtu, 19 November 2016 · Posted in

"Segera tangkap Ahok karena hina Al-Quran," begitu kata Rizieq bukan habib, yang punya jabatan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI).

Bapak satu ini dan temen-temennya yang kompak mengenakan pakaian ala muslim taat itu pengen banget Ahok jadi tersangka dan ditangkap karena mereka sebut telah menistakan agama. Nah ini alasan demonstrasi besar-besaran yang katanya mau membela agama pada 4 November lalu.

Jadi tersangka sudah, tapi belum puas juga. Kenapa? Ya karena Ahok belum ditangkap. Mereka pengen banget Ahok menginap di hotel prodeo dan pada akhirnya gagal ikut Pilkada DKI tahun 2017. Lalu? Ya berharap calon lain yang mereka dukung dan sudah 'mengguyur' mereka menang dan jadi Gubernur. Siapa tuh Calon Gubernur yang guyur FPI dan sahabat-sahabat FPI? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Gue muslim dan gue nggak merasa agama dan kitab suci gue dilecehkan oleh Ahok. Gue justru merasa agama gue dilecehkan dengan sikap mereka yang menjual agama hanya demi menjatuhkan orang lain. Apakah kita sebagai muslim terwakilkan oleh mereka? Kalau gue dengan tegas bilang tidak. Kenapa? Gue sangat-sangat merasa tidak terwakilkan dengan orang yang berdakwah di masjid, tapi isinya malah menghina orang. Di dalam rumah ibadah, di dalam rumah Tuhan, Di dalam tempat suci tapi justru malah mengatai orang seperti kutil babi. Ini yang namanya pejuang agama?

Asshole.

Kalau memang ingin memperjuangkan agama, kenapa kasus dan peristiwa lain mereka diam saja? Dulu ada pejabat yang korupsi dana haji, korupsi pengadaan Al-Quran sampai korupsi dana untuk lahan makam. Lebih banyak kasus lain yang mencoreng agama ketimbang dari pernyataan Ahok yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51.

Mereka diam saja ketika ada orang mengatasnamakan agama untuk meneror orang lain dan sampai tewas atas perbuatannya. Terbaru, peristiwa bom di rumah ibadah di Samarinda.

Turun ke jalan ngaku membela agama. Tapi diam saja ketika anak kecil malang tewas jadi korban mengatasnamakan agama. Marah ketika agamamu disinggung, tapi diam saja ketika kemanusiaan diinjak-injak. Gue yang nggak paham agama saja sangat mengerti, nabimu itu sangat mencintai anak-anak.

Kalau memang merasa tersinggung dengan pernyataan Ahok, gampang kok, tinggal gelar sajadah, pakai sarung dan doakan dia mendapatkan teguran dari Tuhan. Itu pun kalau dia salah. Ngapain turun ke jalan, panas-panasan? Nah, kalau 'berkorban' panas-panasan dan menguras energi, berarti ada udang dibalik bakso kenapa mau ikut berdemo.

Sekali lagi, tanyakan pada rumput yang bergoyang kenapa mereka rela berdemo. Jakarta jarang ada rumput tapi bos? Terus gue harus nanya rumput di daerah mana? Ada kok. Rumput banyak apalagi nanti ketika program-program Ahok untuk lebih menghijaukan Jakarta telah terwujud. Eaaa.

Semua pun tahu demonstrasi tidak murni untuk membela agama. Jadi, biarkan saja Tuhan marah denganmu karena kamu mencari keuntungan dengan cara menjual ajaran-ajarannya.

Ahok tersangka rakyat iba

Bareskrim Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama. Nah, Ahok Haters menganggap penetapan tersangka tersebut membuat masyarakat Jakarta menjadi mengurungkan niatannya untuk mencoblos Ahok saat 15 Februari mendatang. Faktanya justru sebaliknya! Warga Jakarta yang memang sedari awal mendukung Ahok justru semakin solid. Lihat saja dukungan yang sangat deras di media sosial saat Ahok ditetapkan sebagai tersangka.

Nah, ini sebenarnya merupakan suatu pembelajaran politik bagi kita. Apabila memang ingin bersaing, bertarung lah dengan sehat. Adu program dan bukan dengan menjatuhkan lawan. Ya atau lawannya Ahok nggak punya program yang dahsyat buat dijadikan jurus untuk menarik suara rakyat. Sampai saat ini sih, program-program yang dijanjikan oleh lawan Ahok, biasa-biasa aja, Standar. Oh ya, mungkin karena mentok tidak bisa menelurkan program pada akhirnya memilih cara dengan menjatuhkan?

Selain masalah tuntutan proses hukum terhadap Ahok, ada pula cara tidak sehat dari lawan untuk petahana. Beberapa kali saat kampanye, Ahok diusir oleh mereka yang mengaku warga dari tempat yang dikunjungi olehnya. Tapi, faktanya mereka yang menolak itu justru bukan warga setempat dan hanya datang untuk menolak kedatangan Ahok. Lucu. Ibaratnya begini, ada tamu mau dateng ke rumah lo, tapi ada orang lain yang usir tamu lo dari rumah lo. Lucu kan. Iya. Padahal warga yang didatangi Ahok malah menyambut dengan baik dan sekaligus mau menyampaikan aspirasi mereka ke pemimpinnya. Ahok saat itu sampai harus diungsikan pakai angkot. Kasian.

Kejadian lucu lain juga menimpa wakilnya Ahok, Pak Djarot. Saat beberapa kali berkampanye diusir pula dengan sekolompok orang yang menyebut tak suka Ahok tapi malah ikut ‘memarahi’ Djarot. Kala itu, ada pernyataan Djarot yang menurut gue sangat dahsyat. Kurang lebih seperti ini “Kalau Bapak tak suka sama kami, tinggal tidak usah coblos kami tanggal 15 Februari nanti,” kata Djarot.

Gue sangat sepakat dengan Djarot dan menurut gue pernyataan tersebut sangat bijak dan justru Djarot tak balik memarahi mereka. Sesimple itu memang, kalau tidak suka dengan calon gubernur yasudah tinggal nggak usah dipilih, jangan ‘aniaya’ mereka. Gitu aja kok repot!

Menolak calon gubernur dan wakil gubernur untuk berkampanye itu melanggar undang-undang.

Gue menulis ini bukan karena gue pendukung Ahok, walaupun gue tinggal di Jakarta, tetapi gue tidak punya KTP Jakarta sehingga tidak bisa ikut mencoblos. Gue hanya sedih ketika ajaran agama dipakai hanya demi menjatuhkan seseorang. Namun, harus diakui, gue memang berharap Ahok dapat terpilih lagi. Karena apa? Harus diakui gue sepakat dengan yang lainnya, kalau Ahok memang banyak kekurangannya, dari mulutnya yang terkadang nggak bisa dijaga sampai terkadang terkesan arogan.

Manusia punya kekurangan dan tak sempurna seperti Bunda Dorce. Walaupun begitu, harus diakui dia sudah banyak bikin ibukota negara banyak perubahan. Program jangka panjangnya pun sudah banyak yang gue tahu. Sayang, ketika misalnya dia kalah di Pilkada, program jangka panjangnya nanti malah diotak-atik dan justru malah tidak diteruskan sama sekali.

Alasan lainnya kenapa gue berharap Ahok tetap menjabat sebagai Gubernur? Karena dia bukan berasal dari mayoritas. Lewat terpilihnya Ahok, itu membuktikan kalau Indonesia merupakan negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila. Alangkah indahnya ketika seorang minoritas bisa memimpin di ibukota negara dan dipilih oleh mereka yang mayoritas. Sekali lagi, perlu diingatkan, Indonesia bukan negara agama, Indonesia adalah negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda-beda tetapi tetap satu. Memilih pemimpin bukan dilihat dari agamanya, bukan dari rasnya. Tapi apa? Pilih mereka yang niat merubah ibukota, bukan pilih calon yang berasal dari keluarga yang rindu dengan kekuasaan dan bukan pilih calon yang hanya sekedar untuk mencari pekerjaan.

Jakarta ibukota negara. Tempat jutaan orang ingin mewujudkan mimpinya. Tempat jutaan orang ingin meraih kebahagiaan. Untuk hidup bahagia memang butuh proses. Terkadang sakit dan itu hal yang wajar. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi yakinilah tidak ada yang lebih sakit melihat saudara kita yang minoritas ditindas oleh mayoritas yang hidup di negara yang katanya menganut Bhinneka Tunggal Ika.

Tulisan ini hanya sekedar pendapat pribadi. Mau nanggepin serius atau tidak itu hak anda. Toh, tulisan ini dibuat dalam keadaan sedang giting. Uye! Sekian dan terima kasih. Salam toleransi.

Pelan

Jumat, 03 Juni 2016 · Posted in ,

 ‘Pelaan-Pelaaan aja’

Kata-kata itu selalu muncul saat cewek lagi berduaan sama cowok di dalam kamar. Dalam keadaan gelap dan pintu kamar yang tertutup. Jangan ngeres otak lo. Si cewek minta cowok masang paku buat masang tempat gantungan baju yang ditaruh di belakang pintu. Makanya pintunya harus ditutup. Tapi kenapa keadaan gelap? Ya mungkin sedang mendung dan lagi menghemat dengan nggak menghidupkan lampu. Terus gimana pakunya bisa kepasang kalau mukulnya pelan-pelan?  Ya sudahlah ya. Nggak perlu dibahas.

Semuanya yang kita lakukan setiap harinya itu baik pekerjaan, kegiatan lain memang paling enak kalau dilakukan dengan pelan-pelan saja. Sebagai contoh, pofesi yang paling enak di dunia ini adalah profesi yang nggak dikejar ‘deadline’. Ah. Tapi mana ada pekerjaan yang nggak gitu, semua profesi pasti udah dipatok ‘deadline’ dari si boss. Kata ‘deadline’ udah menjadi santapan utama bagi pekerja media seperti gue. Ya mungkin juga udah menjadi ‘musuh dalam selimut’ bagi sebagian besar kalian yang tinggal di Jakarta.

Tinggal di Jakarta udah biasa banget dengan yang namanya buru-buru. Macet yang nggak bisa dihindari menjadi faktor utama bagi kami yang tinggal di ibukota negara ini. Nah, selama ada kesempatan di jalan buat cepat sampai tujuan. Ya kenapa nggak? Buat pengendara motor seperti gue, ya gue jujur aja udah biasa yang namanya harus sengaja menyelip dengan masuk trotoar, nerobos lampu merah kalau ada kesempatan.

Percayalah, hal ini dilakukan bukan karena gue atau orang lain nggak peduli dengan aturan. Tapi kami cuman nggak pengen telat, nggak pengen bikin orang yang nunggu jadi bete karena nungguin lama. Jadwal pekerjaan secara nggak langsung membuat gue jadi ‘pinter’ dengan nyari cara apapun buat nggak telat.

The Power of Kepepet.

Wah, tapi jangan salah kaprah dulu, gue melakukan itu nggak sering-sering amat kok. Selain terburu-buru, terkadang gue sering  telat bangun karena insomnia yang kadang-kadang kambuh atau karena main Football Manager sampai lupa waktu. Buat yang main Football Manager udah paham banget game ini bisa bikin gila.  Oya, jangan dicontoh ya. Aturan walaupun bikin sekesel apapun ya memang harus dipatuhi karena kita harus jadi warga negara yang baik.

Diatas adalah salah satu contoh dari apa yang ada di hidup gue dan sebagian besar orang. Karena terburu-buru itu kita jadi nggak bisa menikmatin apa yang ada di sekitar kita selama di jalan. Ya walaupun sebenarnya nggak ada pemandangan yang bagus sih ya di Jakarta. Tapi suatu saat gue tersadar. Saat itu gue pergi nggak terburu-buru sehingga mampu menikmati jalan sekitar dan melihat ada apa di rute yang sering gue lewatin.

Sampai di suatu pagi gue melihat ada di pinggir jalan ada sebuah tempat yang berbentuk Gelanggang olahraga gitu. Nah, setelah melihat tempat itu gue jadi terpikir bisa jadi alternatif tempat gue lari selain Gelora Bung Karno. Lo tau sendiri kadang-kadang Gelora Bung Karno suka dipakai untuk sebuah event yang membuat orang yang ingin lari jadi ketunda buat ngeluarin keringet.

Walaupun Gelanggang olahraga itu pastinya lebih kecil dan nggak seenak berolahraga di GBK, setidaknya gue jadi menemukan alternatif tempat lari. Contoh kecil seperti ini yang membuat gue pada akhirnya jadi sadar alangkah indahnya hidup kalau tidak terburu-buru alias pelan-pelan saja. Contoh lainnya, kalau lo lagi maen sama cewek, nggak enak kan kalau maennya cepet-cepet? Maen karambol maksud gue. Nggak enak kan kalau maen karambolnye cepet-cepet.

Gue bukan tipe orang yang terlalu suka ke mal. Ke mal paling ya memang karena ada yang mau dilakuin, ada yang lagi dicari untuk keperluan pribadi dan mau nonton ke bioskop. Gue males hanya untuk sekedar menghabiskan waktu berjam-jam cuma untuk nongkrong di mal. Tapi suatu ketika tepatnya hari ini, gue ambil cuti selama empat hari kedepan untuk menjadi manusia normal yang mencari hiburan di tengah kejenuhan rutinitas pekerjaan.

Mal yang paling sering gue kunjungi adalah Gandaria City (Gancit). Alasannya ada dua, yaitu sangat dekat sama tempat gue tinggal dan menurut gue ini mal nggak terlalu rame-rame amad dibandingkan dengan mal lain di Jakarta. Makanya recommended banget ini mal buat kalian yang mau ngajak selingkuhan.

Sepeda gue sudah lama banget jarang dipake. Berhubung takut sepeda gue karatan, gue putuskan selama cuti buat bersepeda kemanapun. Di Gancit ternyata salah satu mal yang menyediakan tempat parkir sepeda. Gue kulik di internet sih, mayoritas pesepeda sangat antusias dengan parkiran sepeda disini. Tempatnya strategis karena dekat dengan lobi mal dan katanya belum ada kejadian sepeda yang hilang. Dengan kata lain, Aman suryaman nih parkiran sepedanya!

Makanya gue putuskan hari ini untuk bersepeda ke Gancit. Selain karena ingin bersepeda, nyoba parkiran sepedanya, kebetulan memang ada barang yang lagi gue cari disini. Setelah bersepeda dan sampai di depan Gancit, lalu gue bertanya ke Security yang berdiri di depan dimana letak parkiran sepeda itu. “Itu mas, dibawah tulisan Metro,” jawab security itu. Gue langsung mengayuh sepeda menuju tempat yang telah diberi tahu oleh security tadi..

Setelah sampai disana, hanya ada satu sepeda yang parkir disana, padahal tempat parkir sepeda itu menyediakan parkir buat sekitar 5-6 sepeda. Saat setelah memarkir sepeda itu, gue jadi mikir kenapa dikit banget yang mau naik sepeda kesini. Bukannya apa-apa, gue cuma takut aja ntar pihak Gancit jadi memutuskan meniadakan parkir tempat sepeda itu karena mikir pemakainya sedikit.

Seperti yang gue baca di internet, seorang pengguna sepeda juga menakutkan hal yang sama dengan gue. Sama-sama takut tempat parkir sepeda ini ditiadakan karena dianggap sepi. Ada baiknya kita berdoa bersama saja.

Nah, dulu setiap gue kesini paling lama ya karena nonton film. Kita tahu sendiri kalau film itu ada yang durasinya bisa dua jam lebih. Sebelum menonton biasanya makan dulu. Ya bisa terhitung mungkin di mal ini gue paling lama mungkin sekitar 5 jam. Terkadang, bahkan cuma bisa sejam atau lebih cepat. Ya karena kesini cuma mau beli barang dan langsung pulang. Tapi berbeda dengan hari ini, gue sudah lebih dari enam jam karena gue putuskan untuk berkeliling mencari ada apa saja di mal ini.

Sampai di satu lantai gue menemukan tempat makan yang menurut gue tempatnya enak. Kopinya enak, makannya enak dan bikin betah berlama-lama disini. Kebetulan gue kesini membawa iPad dan keyboard bluetooth gue. Dan gue putuskan untuk menulis di tempat ini setelah sebelumnya menonton Teenage Mutant Ninja Turtles. Ah, men sungguh banyak banget ternyata hal yang gue lewatkan.

Ah, enak banget ya kalau hidup dijalani tidak terburu-buru. Enak banget juga hidup bisa diselingi waktu untuk sekedar santai-santai saja. Yang bisa gue petik adalah terkadang kita suka lupa dengan sekitar kita karena ego kita sendiri.

Ego kita dalam bekerja keras demi mencari uang yang banyak membuat kita lupa dengan keadaan sekitar. Kiita terlalu menghabiskan waktu sampai membuat kita lupa dengan hal-hal kecil. Padahal dari hal-hal kecil itu justru bisa sangat berguna buat hidup kita.

Kedua, menyisihkan waktu untuk sekedar santai kayak di pantai memang sangat-sangat diperlukan, Tetapi jangan terlalu sering, kadang-kadang aja kalau memang lagi jenuh. Jangan sampai kita menghabiskan waktu untuk sebuah hal yang semestinya tak terlalu sering dilakukan, seperti menghabiskan waktu di mal atau hanya sekedar nongkrong tidak karuan.

Hidup tidak terburu-buru memang enak, hidup santai memang lebih enak. Tetapi yang lebih penting itu apa? Hidup yang seimbang. Hidup yang terburu-buru tetapi diselingi waktu santai. Mengatur hidup yang seperti itu memang wajib dilakukan dan dalam tanda petik HARUS ‘dipaksakan’. Sebab, hidup terlalu singkat apabila dibawa terlalu serius ataupun terlalu santai.

I See a world on the edge of a blade. Without Balance, it will fall - Victoria Aveyard






Diberdayakan oleh Blogger.