Archive for 2013

Faktanya Adalah...

Jumat, 29 November 2013 · Posted in


"Ilmu pengetahuan belum pernah bisa seratus persen bebas dan netral dari pengaruh dan kepentingan politik-ekonomi negara-negara, korporasi dan kekuatan-kekuatan global lainnya"




Gimana menurut Lo?

Rasisme

Jumat, 15 November 2013 · Posted in

Sampai postingan ini gue buat, gue masih belum bisa menemukan buku tentang rasisme. Yap, gue butuh buku tentang rasisme buat bahan skripsi gue yang menyangkut masalah rasisme. Walaupun skripsi gue sebenernya membahas tentang film yang berisikan konten rasisme didalamnya, yah tetep aja gue butuh buku ini (baca:barang yang sekarang ini lagi gue butuhin banget selain Harley davidson sportster iron 883)


Hahaha.

Setelah gue googling ternyata ada satu buku tentang rasisme. Judul lengkapnya Rasisme, Sejarah Singkat. Penulisnya bernama George M. Frederickson. Ini cover buku tersebut, yang gue ambil di Google.


Beberapa waktu lalu, gue nyari nih buku di Gramedia depan Bandung Indah Plaza, dan gak ada stock. Setelah dari Gramedia gue langsung ke toko-toko buku di Palasari, gue optimis di Palasari nih buku ada, yang tinggal di Bandung pasti udah tau betapa terkenalnya kawasan Palasari tentang buku-buku, makanya gue optimis. Gue masukin satu persatu toko buku di Palasari, dan eng ing eng, gak ada satupun yang jual ini buku. Damn! 
Dan gue langsung cabut dari Palasari untuk nyari ke toko-toko buku lainnya, seperti Togamas, Rumah Buku, sampai ke Kawasan Dewi Sartika yang banyak menjual buku-buku bekas. And You Know What?! GAK ADA JUGA!!

Gila, susah banget nyari nih buku, udah kayak nyari cewek cantik zaman sekarang yang belum pernah diapa2in.Oya, coba deh lo pikirin, ada gak cewek cantik zaman sekarang yang belum pernah disentuh atau perawan dari atas ampe bawah? Gak ada kan? Ini kan problem buat kita para cowok-cowok, ini sebuah isu besar buat kita, Men!

Lah kok jadi ngawur gini ya.

Ngemeng-ngemeng masalah tentang rasisme, gue jadi melupakan sejenak tentang ini buku dan jadi kepikiran tentang rasisme di Indonesia, di acara-acara komedi sering banget nge-jokes yang berbau rasis. Apakah Komedian di Indonesia, kehabisan bahan?

Padahal di luar negeri rasisme udah menjadi isu global yang sensitif, yang sering kita dengar adalah rasisme di dunia sepakbola. Beberapa waktu lalu UEFA baru saja memberikan hukuman kepada klub sepakbola Rusia CSKA Moskow akibat ulah suporternya yang rasis terhadap Gelandang Manchester City, Yaya Toure. Hukuman yang diberikan berupa penutupan satu bagian stadion kepada CSKA Moskow untuk pertandingan lanjutan Liga Champions melawan Bayern Munchen pada tanggal 27 November 2013. Seperti yang gue baca di salah satu media online, Michel Platini selaku Ketua UEFA mengatakan "Semua bentuk perilaku rasis dianggap pelanggaran serius dan dihukum dengan sanksi yang sangat berat".

Kasus rasisme lain di dunia Sepakbola, yang masih teringat di para pecinta sepakbola salah satunya adalah, rasis yang dilakukan Striker Liverpool terhadap WingBack klub Manchester United (Baca: Tim Sepakbola favorit Penulis) Patrice Evra. FA menjatuhkan hukuman larangan tidak boleh membela Liverpool selama 8 pertandingan untuk Luis Suarez. Tegas!
Masih banyak kasus rasisme di dunia sepakbola, kalo mau dimasukkin semuanya di postingan ini, mungkin gak indah untuk dibaca *sebenernya sih males nginget*
Sudah terbayang oleh kita Warga Negara Indonesia bahwa rasisme di luar sana sudah menjadi isu global yang sensitif. Ya kan? Iyain aja deh, biar cepet.

Apakah salah mereka terlahir Negro? Apakah salah kami terlahir dengan wajah oriental?
Hargai sedikit perbedaan, fisik sudah ditakdirkan Sang Maha Pencipta. Menghina ciptaan Tuhan, berarti Menghina Tuhan secara langsung.


Terakhir, gue berharap bisa dapetin bukunya untuk referensi skripsi gue dan semoga rasisme tidak dianggap sepele lagi.
Hal sepele bisa menjadi sebuah hal yang besar karena terlalu dianggap sepele.



Sebagai penutup, gue cuma mau memperlihatkan gambar dibawah ini 






Mengasah Pisau

Sabtu, 21 September 2013 · Posted in

Andai Jarak antara Bandung (tempat saya tinggal) ke Manchester sama seperti jarak antara Bandung ke Jakarta saya akan pergi ke Manchester untuk bilang satu hal kepada Pelatih Manchester United saat ini, yaitu David Moyes. Stop! Membeli pemain baru lagi. Saya sebagai seorang fans Manchester United agak geli dengan gagalnya upaya Moyes dan managemen klub untuk mendatangkan pemain. Pencarian sektor gelandang menjadi skala prioritas Moyes dan managemen klub yang dianggap menjadi kekurangan Manchester United dalam mengarungi musim 2013/2014. Geli bukan karena gagal dalam mendapatkan buruan pemain, tapi untuk apa membeli gelandang baru?

Cesc Fabregas, Marouane Fellaini, Ander Herrera, Mesut Ozil, Ilkay Gundogan, Sami Khedira, Gareth Bale, hingga mantan bintangnya sendiri, yaitu Cristiano Ronaldo adalah nama-nama yang santer dikabarkan diminati oleh Manchester United. Sampai transfer ditutup pada awal Bulan September kemarin hanya Fellaini yang berhasil dipinang Manchester United. 
Keinginan MU untuk memperkuat sektor lini tengah mereka tidak lain adalah dikarenakan mencari pengganti Sang Jenderal lapangan tengah Paul Scholes yang resmi pensiun di akhir musim untuk kedua kalinya. Sosok Fabregas dianggap tepat untuk menjadi jawaban sebagai pengganti seorang Scholes, tetapi Barcelona menolak bintangnya tersebut untuk dijual ke MU walaupun MU sudah melayangkan beberapa kali minat mereka terhadap mantan Kapten Arsenal tersebut.

Manchester United sendiri banyak memiliki stok gelandang yang berkualitas untuk menutup posisi yang ditinggal Scholes, seperti Shinji Kagawa, Anderson, Nick Powell, Darren Fletcher dan para pemain akademi Manchester United yang memiliki skill bagus, yaitu Tom Cleverley, Adnan Januzaj dan Jesse Lingard.
Mayoritas stok gelandang MU adalah gelandang serang, tidak seperti Scholes yang mampu menyeimbangkan serangan dan pertahanan sama baiknya. Tipe permainan Scholes agak mirip dengan permainan Anderson, Cleverley, dan Nick Powell. Seharusnya MU bisa memaksimalkan ketiga pemain ini.

Kagawa dan Lingard yang cenderung sebagai gelandang yang beroperasi menyerang mungkin bisa 'dididik' untuk mampu menjaga posisinya untuk bisa mundur ketika sedang diserang oleh lawan atau dengan kata lain merubah posisi ideal mereka. Perlu kita ingat, ketika MU masih dilatih Sir Alex Ferguson, Alan Smith yang sejatinya adalah seorang striker bisa 'dididik' menjadi seorang gelandang jangkar.

Seharusnya ini bisa dilakukan oleh Moyes perihal Kagawa yang belum terlihat tajinya bersama Manchester United. Mungkin saja Kagawa tidak keberatan andai berperan seperti Scholes daripada harus menjadi pemain cadangan MU. Sama halnya dengan Jesse Lingard, walaupun Ia masih muda dan belum banyak jam terbang untuk bermain di level tim senior MU, mungkin Ia bisa menjadi alternatif untuk gelandang yang dicari oleh Moyes. 

Gareth Bale sudah resmi menjadi pembelian termahal Real Madrid, Cristiano Ronaldo baru saja menandatangani kontrak baru dengan Los Galacticos dan Ia mengatakan bahwa Manchester United adalah masa lalu. Pupus sudah harapan Moyes untuk mendatangkan kedua pemain yang bermain di posisi sayap ini. Solusinya adalah memaksimalkan 2 pemain muda MU yaitu Wilfried Zaha dan Adnan Januzaj. Zaha memang berposisi sebagai pemain sayap kanan sejak bermain di timnya terdahulu yaitu Crystal Palace, sedangkan Januzaj sejatinya adalah seorang gelandang tengah, tetapi Ia cakap bermain sebagai gelandang kiri.

Sebagai seorang Fans Manchester United saya lebih senang ketika era The Class of 92′ diagung-agungkan daripada harus mengagungkan pemain yang dibeli dari klub lain.

1379768874649354412


"Jika didalam rumah ada sebuah pisau yang tumpul, lebih baik diasah hingga menjadi pisau yang tajam daripada harus membeli pisau yang baru"




FYI: Bukan berarti tidak mendukung David Moyes, hanya sekedar saran dari seorang fans berat yang ingin klub pujaannya lebih mengutamakan pemain muda dari akademi dan pemain muda lainnya yang sudah ada. 

Hey, Jangan Menjadi Tua!

Kamis, 06 Juni 2013 · Posted in ,

Gue punya seorang temen yang seumuran, beberapa waktu yang lalu Ia memberi kabar bahwa Ia diterima kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil disalah satu kantor pemerintahan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Yap, sebuah kabar yang baik, bisa diterima kerja tanpa harus menjadi sarjana terlebih dahulu. Enak!
Walaupun gue sempet berpikir "kok bisa ya keterima jadi PNS tanpa ijazah sarjana, dan hanya mengandalkan ijazah SMA?" Ah, sudahlah gue gak mau mikir yang aneh-aneh kenapa temen gue ini bisa keterima jadi PNS. You know what i mean, right?!

Setelah beberapa bulan Ia bekerja, gue merasakan ada yang berubah dengan temen gue ini. Pertama, gue melihat penampilannya, sangat berubah dari sebelum Ia bekerja. Penampilannya ketika tidak memakai seragam kerja atau penampilannya sehari-hari, sangat dewasa sekali. Ya langsung aja deh bilang penampilannya jadi tua banget. Tidak seperti penampilan anak-anak muda seumuran kami. Kemana-mana Ia memakai kemeja atau kaos berkerah dengan memakai daleman singlet, celana jeans dengan model bapak-bapak yang warnanya kelihatan baru terus, terkadang memakai celana yang berbahan halus, sendal kulit yang modelnya sama seperti yang dipakai oleh Ayah-Ayah kita, memakai cincin dengan batu yang besar, entah apa nama jenis cincin seperti ini, kalau kalian melihat orang-orang tua yang memakai cincin yang besar-besar, ya seperti itulah cincin yang Ia pakai. Dan yang lebih parahnya lagi adalah perutnya menjadi buncit. Persis seperti Bapak-bapak umur 40 tahun keatas pada umumnya. Yang kedua adalah cara berbicaranya yang berubah, nada Ia berbicara menjadi sedikit berwibawa, dan memakai bahasa-bahasa baku setiap berbicara, contohnya "Sudah, biasa saja". Yang ketiga adalah, caranya duduk. Ketika duduk, badannya dibuat menjadi tegap. Kalian juga tahu kan perbedaan cara duduk anak muda dengan orang tua.

Apakah lingkungan tempat Ia bekerja mempengaruhinya? Apakah kodratnya memang seperti ini? Ketika seseorang sudah bekerja dan menganggap sudah waktunya untuk menjadi dewasa harus berubah juga dari penampilan, hingga hal-hal lainnya?
Menurut gue gak harus gitu juga. Banyak orang-orang yang sudah tua tetapi ingin tetap muda dengan berbagai cara, ini malah anak muda yang menjadi orang tua. Hadeuh. Saatnya taruh tangan dijidat terus bilang "Capeeek deh!"

Semua manusia akan tua pada waktunya, buat penampilan dan hal lainnya tidak harus ikut menua kan.



Tua itu kan hanya sebuah angka yang disebut umur. Walaupun umur sudah tua tapi harus tetap berjiwa muda. Gak haram kok. Tidak perlu berubah semuanya, biar umur saja yang berubah.

Kalo gue ogah deh berpenampilan tua.
Kalo lo?


(Bukan) Salah Tuhan

Sabtu, 06 April 2013 · Posted in ,

Sebuah profesi yang paling enak didunia adalah menjadi Pemerintah. Yaiyalah, enak bisa ini bisa itu, bisa anu bisa ani, bisa budi bisa joko. Bukan, bukan itu sebenarnya yang mau gue bahas. Tapi yang lebih enak itu adalah menjadi Pemerintah di Negara yang beragama. Karena apa? Karena ketika ada sebuah bencana, masyarakat akan menyalahkan Tuhannya masing-masing daripada menyalahkan Pemerintah. Selalu berdoa kepada Tuhannya agar tidak ada bencana lagi, berdoa yang menjurus untuk menyalahkan. "Ya Tuhan, kami tidak kuat dengan bencana banjir ini, tolong berikan kami jalan keluar dan hentikan banjir ini" Itu kan Doa yang dipanjatkan ketika sedang mengalami bencana banjir. Gak pernah berdoa "Tuhan, kapan Pemerintah kami bisa benar dalam mengelola got, saluran air, agar tempat kami terbebas dari banjir" 

Banjir bukan bencana bro, banjir itu terjadi karena Pemerintah gak mampu mengelola got dengan baik.

Masalah lain yaitu kelaparan, bukan salah Tuhan tidak memberikan makan, ya tapi karena Pemerintah yang gak bener dalam pendistribusian pangan. Tuhan tidak sejahat itu tega melihat hamba-Nya kelaparan.

Dimana korelasi antara bencana dari Tuhan dengan ulah manusianya sendiri(Baca: Pemerintah)?

GOD IS NEVER WRONG!

Berdoalah memakai logika.

Diberdayakan oleh Blogger.