Archive for April 2012

Pintarkah?

Kamis, 05 April 2012 · Posted in ,

Ketika kita sekolah di SMP dan di SMA, pastinya kita seneng punya temen yang rajin dan pinter, buat kita jadiin tempat nyontek. Setuju gak? Temen-temen kita yang rajin dan pinter tersebut, bolehlah kita anggep sebagai penolong ketika kita sekolah dulu. Tapi, nyatanya apa ketika kita sudah melepas seragam putih abu-abu kita, dan ingin melanjutkan ke bangku kuliah, ada sebuah fakta yang menarik buat diperbincangkan. Kalo gue kan ya wajar ya, gue males sekolah dulu. Makanya gue sekarang masuk perguruan tinggi swasta. Nah, bagaimana dengan mereka yang dulu bisa dibilang pintar dan rajin di sekolah? Memang ada sebagian yang masuk perguruan tinggi negeri yang mereka mau. Tapi, menurut pengamatan gue sih, atau mungkin banyak yang setuju sama gue. Sebagian dari mereka yang pintar dulu malah masuk perguruan tinggi negeri bukan lewat jalur SNMPTN, tapi kebanyakan masuk lewat jalur UM/SMUP malah banyak yang masuk perguruan tinggi swasta. Jadinya, ini yang bikin gue beranggapan bahwa gunanya pinter dan rajin di sekolah itu apa?!

Gue beranggapan bahwa orang yang pintar atau cerdas dilihat bukan dari ketika dia berada di bangku sekolah, tetapi ketika kita semua, duduk di bangku perguruan tinggi mana. Ya emang gak semua sih, banyak juga kan, sekarang perguruan tinggi negeri yang bisa masukin orang dengan "duit". Ya tapi kita juga taulah temen kita gimana, jadi kita ngerti misalnya kenapa dia yang 'begitu' tapi bisa masuk perguruan tinggi yang bagus.

Coba deh kalo sekarang kita yang udah pada kuliah, dan bertemu dengan temen-temen SMA kita dulu. Apa yang mau diobrolin? Pelajaran sewaktu sekolah? Rumus matematika? fisika? Sosiologi? Gak mungkin deh kita mau bahas tentang pelajaran!! Yang pada pinter dan rajin di SMA aja gak mungkin mau bahas tentang pelajaran SMA dulu, apalagi orang yang kayak gue. Ngebahasnya apa kalo udah ketemu ama temen-temen SMA, pasti bahas tentang kenakalan di SMA, hal-hal yang lucu dan menarik, nanyain kabar temen yang sekarang gak pernah keliatan, atau ngomongin keanehan guru. "Si anu sekarang dimana sih". "masih inget gak dulu pas kita disetrap rame-rame, "lucu banget ya kalo diinget-inget tingkah laku kita saat ketauan nyontek sama Ibu anu". Yang begini-begini kan, yang kita inget-inget ampe sekarang waktu kita SMA dulu.

Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita yang membuat kita pada males sekolah, contohnya gue yang gak suka sama matematika. Kenapa gue harus bertahun-tahun belajar matematika? Ini salah satu hal yang bikin gue males sekolah. Seharusnya pendidikan di sekolah itu, bisa dirombak. Harus ada perubahan dan bisa melihat psikologis siswanya, dengan memberikan sebuah pelajaran yang bisa bikin siswa seneng dan betah ketika ngedengerin Guru menerangkan pelajaran. Kalo Guru lagi menerangkan, siswa kebanyakan pada ngantuk, maen HP, ngobrol dengan temen sebangku, ada yang ngegambar di bukunya, ada yang baca buku lain tapi ditutupin dengan buku pelajaran, dan ada yang ngelamun jorok(ngelamun main di comberan maksudnya, ngeres aja sih otak lo). Berharap cepet abis pelajarannya, berharap cepet jam istirahat, berharap guru gak dateng, berharap cepet pulang, dan berharap ketika melakukan pelanggaran, ortu gak dipanggil ke sekolah. Ini semua fakta tentang siswa-siswi sekolah, coba deh perhatiin.

Back to Mathematics, kan di SD udah diajarin caranya menghitung, terus kenapa orang yang gak suka, harus belajar bertahun-tahun di SMP dan SMA? Kalo gak suka, ya pastinya orang males kan. Jadinya menurut gue, SMP dan SMA itu harus cuma ada pelajaran yang siswanya suka. Contoh, yang suka sama gambar, ya pelajaran di sekolah ya tentang ngegambar, yang suka nulis pelajaran sekolahnya tentang bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Ya seperti kuliah gitulah. Sewaktu udah lulus sekolah dan mau masuk perguruan tinggi, siswa itu cuma tinggal lanjutin aja. Jadi, gak perlu ngabisin waktu dengan hal-hal yang gak disukai. Harusnya juga test masuk SNMPTN itu soal-soalnya seperti soal tentang dunia menggambar bagi yang suka gambar, soal tentang olahraga, buat yang suka sama olahraga. Pastinya juga orang lebih mudah untuk masuk perguruan tinggi yang dimaui.
Kalo ada yang mau jadi seorang Designer baju misalnya, apa perlu buat baju make rumus matematika? Yang penting kan udah tau cara berhitung gimana. Toh, yang penting bisa ngitung duit, bisa ngukur baju meter-meteran, bisa kali-kalian angka buat ukuran baju.

Ya, ini hanya sebuah pendapat dari seorang manusia yang pernah gagal dalam bangku sekolah. Kalo ada yang setuju ya silahkan, ada yang gak setuju ya silahkan, namanya pendapat.

Cya!






Rasa nasionalis dan rasa iri

Rabu, 04 April 2012 · Posted in

Nasionalisme, ya atau bahasa simpelnya ya rasa cinta terhadap negara ini memang harus ada di dalam diri kita sebagai seorang warga negara Indonesia. Walaupun Negara ini banyak banget yang bikin kita seakan kesel, aneh, gak masuk akal, bahkan lucu karena tingkah laku pemerintah. Menurut gue ya wajarlah namanya banyak orang Indonesia yang ingin Negara ini bisa jadi kayak Negara lain. Toh, manusiawi kan namanya. Rasa iri akan kehebatan Negara lain, yang Negaranya bisa ini, bisa itu, blah blah blah.
Gue dan orang lain mungkin pernah berucap "Coba Indonesia bisa kayak negara ini, atau warga negara Indonesia bisa kayak warga negara lain". Lalu ketika gue berbicara seperti itu, orang2 sekitar gue pasti bilang "dimana rasa nasionalisme lo". Hey, gak perlu jadi orang yang munafik, kita semua emang orang Indonesia dan pastinya kita cinta, tapi pasti ada deh di hati kecil kita semua supaya Indonesia bisa jadi lebih baik. Nasionalis kan bukan dilihat dari omongan, atribut, nge-twit atau apalah.

Fakta lainnya aja banyak warga negara Indonesia yang mengidolai superstars dari Inggris, Hollywood, Bollywood, Korea, Jepang, Jamaika, Nigeria atau orang2 hebat dari negara lainnya. Ya wajar orang Indonesia gak punya sosok yang patut menjadi panutan di bidang politik dan kenegaraan. Banyak yang lebih menghabiskan waktu dengan kesenangan dengan mengidolai bintang pujaan mereka daripada memikirkan tentang politik di negeri ini. Gue cuma beranggapan bahwa rasa iri itu hanyalah sebuah rasa yang manusiawi dalam manusia.

Dan tentang partai politik yang berkuasa di negara ini, lalu bagaimana sosok independen yang ingin berkecimpung di dunia politik tapi gak pengen masuk ke partai politik? Gue yakin banyak orang independen di negara ini yang punya idealisme yang hebat tapi jadi mundur dan gak berani berkecimpung di dunia politik karena gak pengen masuk partai politik.

Banyak lagi orang hebat di negara ini yang malah seakan lebih "dihargai" di negara lain daripada di negara sendiri. Dan ketika seakan-akan orang bule yang tinggal di negara ini, malah diagung2kan dan dibanggakan. Lihat saja fakta di televisi kita. Betapa bodohnya kalo dipikir, mereka itu kan bule yang gak laku dan gak kepake di negaranya, tapi kenapa di Indonesia bisa jadi orang yang hebat!

Gak akan ada habisnya nih kalo mau bahas ini negara, intinya adalah rasa iri dengan negara lain itu adalah harusnya bisa dijadikan patokan. Rasa iri karena ingin menjadi seperti mereka, ambil sisi positifnya.
Finally, banyak sistem yang harus dirombak, dan butuh waktu untuk membuat negara ini menjadi negara yang sekuat macan.

Ya maksud gue sih bukan malah menjadi gak bersyukur atau gimana, intinya maksud gue itu, ya ambil sisi positif dari negara lain dan kembangkan di Indonesia.
 .
*yasudah makan dulu sana*







Diberdayakan oleh Blogger.