Jakarta

Sabtu, 19 November 2016 · Posted in

"Segera tangkap Ahok karena hina Al-Quran," begitu kata Rizieq bukan habib, yang punya jabatan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI).

Bapak satu ini dan temen-temennya yang kompak mengenakan pakaian ala muslim taat itu pengen banget Ahok jadi tersangka dan ditangkap karena mereka sebut telah menistakan agama. Nah ini alasan demonstrasi besar-besaran yang katanya mau membela agama pada 4 November lalu.

Jadi tersangka sudah, tapi belum puas juga. Kenapa? Ya karena Ahok belum ditangkap. Mereka pengen banget Ahok menginap di hotel prodeo dan pada akhirnya gagal ikut Pilkada DKI tahun 2017. Lalu? Ya berharap calon lain yang mereka dukung dan sudah 'mengguyur' mereka menang dan jadi Gubernur. Siapa tuh Calon Gubernur yang guyur FPI dan sahabat-sahabat FPI? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Gue muslim dan gue nggak merasa agama dan kitab suci gue dilecehkan oleh Ahok. Gue justru merasa agama gue dilecehkan dengan sikap mereka yang menjual agama hanya demi menjatuhkan orang lain. Apakah kita sebagai muslim terwakilkan oleh mereka? Kalau gue dengan tegas bilang tidak. Kenapa? Gue sangat-sangat merasa tidak terwakilkan dengan orang yang berdakwah di masjid, tapi isinya malah menghina orang. Di dalam rumah ibadah, di dalam rumah Tuhan, Di dalam tempat suci tapi justru malah mengatai orang seperti kutil babi. Ini yang namanya pejuang agama?

Asshole.

Kalau memang ingin memperjuangkan agama, kenapa kasus dan peristiwa lain mereka diam saja? Dulu ada pejabat yang korupsi dana haji, korupsi pengadaan Al-Quran sampai korupsi dana untuk lahan makam. Lebih banyak kasus lain yang mencoreng agama ketimbang dari pernyataan Ahok yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51.

Mereka diam saja ketika ada orang mengatasnamakan agama untuk meneror orang lain dan sampai tewas atas perbuatannya. Terbaru, peristiwa bom di rumah ibadah di Samarinda.

Turun ke jalan ngaku membela agama. Tapi diam saja ketika anak kecil malang tewas jadi korban mengatasnamakan agama. Marah ketika agamamu disinggung, tapi diam saja ketika kemanusiaan diinjak-injak. Gue yang nggak paham agama saja sangat mengerti, nabimu itu sangat mencintai anak-anak.

Kalau memang merasa tersinggung dengan pernyataan Ahok, gampang kok, tinggal gelar sajadah, pakai sarung dan doakan dia mendapatkan teguran dari Tuhan. Itu pun kalau dia salah. Ngapain turun ke jalan, panas-panasan? Nah, kalau 'berkorban' panas-panasan dan menguras energi, berarti ada udang dibalik bakso kenapa mau ikut berdemo.

Sekali lagi, tanyakan pada rumput yang bergoyang kenapa mereka rela berdemo. Jakarta jarang ada rumput tapi bos? Terus gue harus nanya rumput di daerah mana? Ada kok. Rumput banyak apalagi nanti ketika program-program Ahok untuk lebih menghijaukan Jakarta telah terwujud. Eaaa.

Semua pun tahu demonstrasi tidak murni untuk membela agama. Jadi, biarkan saja Tuhan marah denganmu karena kamu mencari keuntungan dengan cara menjual ajaran-ajarannya.

Ahok tersangka rakyat iba

Bareskrim Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama. Nah, Ahok Haters menganggap penetapan tersangka tersebut membuat masyarakat Jakarta menjadi mengurungkan niatannya untuk mencoblos Ahok saat 15 Februari mendatang. Faktanya justru sebaliknya! Warga Jakarta yang memang sedari awal mendukung Ahok justru semakin solid. Lihat saja dukungan yang sangat deras di media sosial saat Ahok ditetapkan sebagai tersangka.

Nah, ini sebenarnya merupakan suatu pembelajaran politik bagi kita. Apabila memang ingin bersaing, bertarung lah dengan sehat. Adu program dan bukan dengan menjatuhkan lawan. Ya atau lawannya Ahok nggak punya program yang dahsyat buat dijadikan jurus untuk menarik suara rakyat. Sampai saat ini sih, program-program yang dijanjikan oleh lawan Ahok, biasa-biasa aja, Standar. Oh ya, mungkin karena mentok tidak bisa menelurkan program pada akhirnya memilih cara dengan menjatuhkan?

Selain masalah tuntutan proses hukum terhadap Ahok, ada pula cara tidak sehat dari lawan untuk petahana. Beberapa kali saat kampanye, Ahok diusir oleh mereka yang mengaku warga dari tempat yang dikunjungi olehnya. Tapi, faktanya mereka yang menolak itu justru bukan warga setempat dan hanya datang untuk menolak kedatangan Ahok. Lucu. Ibaratnya begini, ada tamu mau dateng ke rumah lo, tapi ada orang lain yang usir tamu lo dari rumah lo. Lucu kan. Iya. Padahal warga yang didatangi Ahok malah menyambut dengan baik dan sekaligus mau menyampaikan aspirasi mereka ke pemimpinnya. Ahok saat itu sampai harus diungsikan pakai angkot. Kasian.

Kejadian lucu lain juga menimpa wakilnya Ahok, Pak Djarot. Saat beberapa kali berkampanye diusir pula dengan sekolompok orang yang menyebut tak suka Ahok tapi malah ikut ‘memarahi’ Djarot. Kala itu, ada pernyataan Djarot yang menurut gue sangat dahsyat. Kurang lebih seperti ini “Kalau Bapak tak suka sama kami, tinggal tidak usah coblos kami tanggal 15 Februari nanti,” kata Djarot.

Gue sangat sepakat dengan Djarot dan menurut gue pernyataan tersebut sangat bijak dan justru Djarot tak balik memarahi mereka. Sesimple itu memang, kalau tidak suka dengan calon gubernur yasudah tinggal nggak usah dipilih, jangan ‘aniaya’ mereka. Gitu aja kok repot!

Menolak calon gubernur dan wakil gubernur untuk berkampanye itu melanggar undang-undang.

Gue menulis ini bukan karena gue pendukung Ahok, walaupun gue tinggal di Jakarta, tetapi gue tidak punya KTP Jakarta sehingga tidak bisa ikut mencoblos. Gue hanya sedih ketika ajaran agama dipakai hanya demi menjatuhkan seseorang. Namun, harus diakui, gue memang berharap Ahok dapat terpilih lagi. Karena apa? Harus diakui gue sepakat dengan yang lainnya, kalau Ahok memang banyak kekurangannya, dari mulutnya yang terkadang nggak bisa dijaga sampai terkadang terkesan arogan.

Manusia punya kekurangan dan tak sempurna seperti Bunda Dorce. Walaupun begitu, harus diakui dia sudah banyak bikin ibukota negara banyak perubahan. Program jangka panjangnya pun sudah banyak yang gue tahu. Sayang, ketika misalnya dia kalah di Pilkada, program jangka panjangnya nanti malah diotak-atik dan justru malah tidak diteruskan sama sekali.

Alasan lainnya kenapa gue berharap Ahok tetap menjabat sebagai Gubernur? Karena dia bukan berasal dari mayoritas. Lewat terpilihnya Ahok, itu membuktikan kalau Indonesia merupakan negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila. Alangkah indahnya ketika seorang minoritas bisa memimpin di ibukota negara dan dipilih oleh mereka yang mayoritas. Sekali lagi, perlu diingatkan, Indonesia bukan negara agama, Indonesia adalah negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda-beda tetapi tetap satu. Memilih pemimpin bukan dilihat dari agamanya, bukan dari rasnya. Tapi apa? Pilih mereka yang niat merubah ibukota, bukan pilih calon yang berasal dari keluarga yang rindu dengan kekuasaan dan bukan pilih calon yang hanya sekedar untuk mencari pekerjaan.

Jakarta ibukota negara. Tempat jutaan orang ingin mewujudkan mimpinya. Tempat jutaan orang ingin meraih kebahagiaan. Untuk hidup bahagia memang butuh proses. Terkadang sakit dan itu hal yang wajar. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi yakinilah tidak ada yang lebih sakit melihat saudara kita yang minoritas ditindas oleh mayoritas yang hidup di negara yang katanya menganut Bhinneka Tunggal Ika.

Tulisan ini hanya sekedar pendapat pribadi. Mau nanggepin serius atau tidak itu hak anda. Toh, tulisan ini dibuat dalam keadaan sedang giting. Uye! Sekian dan terima kasih. Salam toleransi.

Pelan

Jumat, 03 Juni 2016 · Posted in ,

 ‘Pelaan-Pelaaan aja’

Kata-kata itu selalu muncul saat cewek lagi berduaan sama cowok di dalam kamar. Dalam keadaan gelap dan pintu kamar yang tertutup. Jangan ngeres otak lo. Si cewek minta cowok masang paku buat masang tempat gantungan baju yang ditaruh di belakang pintu. Makanya pintunya harus ditutup. Tapi kenapa keadaan gelap? Ya mungkin sedang mendung dan lagi menghemat dengan nggak menghidupkan lampu. Terus gimana pakunya bisa kepasang kalau mukulnya pelan-pelan?  Ya sudahlah ya. Nggak perlu dibahas.

Semuanya yang kita lakukan setiap harinya itu baik pekerjaan, kegiatan lain memang paling enak kalau dilakukan dengan pelan-pelan saja. Sebagai contoh, pofesi yang paling enak di dunia ini adalah profesi yang nggak dikejar ‘deadline’. Ah. Tapi mana ada pekerjaan yang nggak gitu, semua profesi pasti udah dipatok ‘deadline’ dari si boss. Kata ‘deadline’ udah menjadi santapan utama bagi pekerja media seperti gue. Ya mungkin juga udah menjadi ‘musuh dalam selimut’ bagi sebagian besar kalian yang tinggal di Jakarta.

Tinggal di Jakarta udah biasa banget dengan yang namanya buru-buru. Macet yang nggak bisa dihindari menjadi faktor utama bagi kami yang tinggal di ibukota negara ini. Nah, selama ada kesempatan di jalan buat cepat sampai tujuan. Ya kenapa nggak? Buat pengendara motor seperti gue, ya gue jujur aja udah biasa yang namanya harus sengaja menyelip dengan masuk trotoar, nerobos lampu merah kalau ada kesempatan.

Percayalah, hal ini dilakukan bukan karena gue atau orang lain nggak peduli dengan aturan. Tapi kami cuman nggak pengen telat, nggak pengen bikin orang yang nunggu jadi bete karena nungguin lama. Jadwal pekerjaan secara nggak langsung membuat gue jadi ‘pinter’ dengan nyari cara apapun buat nggak telat.

The Power of Kepepet.

Wah, tapi jangan salah kaprah dulu, gue melakukan itu nggak sering-sering amat kok. Selain terburu-buru, terkadang gue sering  telat bangun karena insomnia yang kadang-kadang kambuh atau karena main Football Manager sampai lupa waktu. Buat yang main Football Manager udah paham banget game ini bisa bikin gila.  Oya, jangan dicontoh ya. Aturan walaupun bikin sekesel apapun ya memang harus dipatuhi karena kita harus jadi warga negara yang baik.

Diatas adalah salah satu contoh dari apa yang ada di hidup gue dan sebagian besar orang. Karena terburu-buru itu kita jadi nggak bisa menikmatin apa yang ada di sekitar kita selama di jalan. Ya walaupun sebenarnya nggak ada pemandangan yang bagus sih ya di Jakarta. Tapi suatu saat gue tersadar. Saat itu gue pergi nggak terburu-buru sehingga mampu menikmati jalan sekitar dan melihat ada apa di rute yang sering gue lewatin.

Sampai di suatu pagi gue melihat ada di pinggir jalan ada sebuah tempat yang berbentuk Gelanggang olahraga gitu. Nah, setelah melihat tempat itu gue jadi terpikir bisa jadi alternatif tempat gue lari selain Gelora Bung Karno. Lo tau sendiri kadang-kadang Gelora Bung Karno suka dipakai untuk sebuah event yang membuat orang yang ingin lari jadi ketunda buat ngeluarin keringet.

Walaupun Gelanggang olahraga itu pastinya lebih kecil dan nggak seenak berolahraga di GBK, setidaknya gue jadi menemukan alternatif tempat lari. Contoh kecil seperti ini yang membuat gue pada akhirnya jadi sadar alangkah indahnya hidup kalau tidak terburu-buru alias pelan-pelan saja. Contoh lainnya, kalau lo lagi maen sama cewek, nggak enak kan kalau maennya cepet-cepet? Maen karambol maksud gue. Nggak enak kan kalau maen karambolnye cepet-cepet.

Gue bukan tipe orang yang terlalu suka ke mal. Ke mal paling ya memang karena ada yang mau dilakuin, ada yang lagi dicari untuk keperluan pribadi dan mau nonton ke bioskop. Gue males hanya untuk sekedar menghabiskan waktu berjam-jam cuma untuk nongkrong di mal. Tapi suatu ketika tepatnya hari ini, gue ambil cuti selama empat hari kedepan untuk menjadi manusia normal yang mencari hiburan di tengah kejenuhan rutinitas pekerjaan.

Mal yang paling sering gue kunjungi adalah Gandaria City (Gancit). Alasannya ada dua, yaitu sangat dekat sama tempat gue tinggal dan menurut gue ini mal nggak terlalu rame-rame amad dibandingkan dengan mal lain di Jakarta. Makanya recommended banget ini mal buat kalian yang mau ngajak selingkuhan.

Sepeda gue sudah lama banget jarang dipake. Berhubung takut sepeda gue karatan, gue putuskan selama cuti buat bersepeda kemanapun. Di Gancit ternyata salah satu mal yang menyediakan tempat parkir sepeda. Gue kulik di internet sih, mayoritas pesepeda sangat antusias dengan parkiran sepeda disini. Tempatnya strategis karena dekat dengan lobi mal dan katanya belum ada kejadian sepeda yang hilang. Dengan kata lain, Aman suryaman nih parkiran sepedanya!

Makanya gue putuskan hari ini untuk bersepeda ke Gancit. Selain karena ingin bersepeda, nyoba parkiran sepedanya, kebetulan memang ada barang yang lagi gue cari disini. Setelah bersepeda dan sampai di depan Gancit, lalu gue bertanya ke Security yang berdiri di depan dimana letak parkiran sepeda itu. “Itu mas, dibawah tulisan Metro,” jawab security itu. Gue langsung mengayuh sepeda menuju tempat yang telah diberi tahu oleh security tadi..

Setelah sampai disana, hanya ada satu sepeda yang parkir disana, padahal tempat parkir sepeda itu menyediakan parkir buat sekitar 5-6 sepeda. Saat setelah memarkir sepeda itu, gue jadi mikir kenapa dikit banget yang mau naik sepeda kesini. Bukannya apa-apa, gue cuma takut aja ntar pihak Gancit jadi memutuskan meniadakan parkir tempat sepeda itu karena mikir pemakainya sedikit.

Seperti yang gue baca di internet, seorang pengguna sepeda juga menakutkan hal yang sama dengan gue. Sama-sama takut tempat parkir sepeda ini ditiadakan karena dianggap sepi. Ada baiknya kita berdoa bersama saja.

Nah, dulu setiap gue kesini paling lama ya karena nonton film. Kita tahu sendiri kalau film itu ada yang durasinya bisa dua jam lebih. Sebelum menonton biasanya makan dulu. Ya bisa terhitung mungkin di mal ini gue paling lama mungkin sekitar 5 jam. Terkadang, bahkan cuma bisa sejam atau lebih cepat. Ya karena kesini cuma mau beli barang dan langsung pulang. Tapi berbeda dengan hari ini, gue sudah lebih dari enam jam karena gue putuskan untuk berkeliling mencari ada apa saja di mal ini.

Sampai di satu lantai gue menemukan tempat makan yang menurut gue tempatnya enak. Kopinya enak, makannya enak dan bikin betah berlama-lama disini. Kebetulan gue kesini membawa iPad dan keyboard bluetooth gue. Dan gue putuskan untuk menulis di tempat ini setelah sebelumnya menonton Teenage Mutant Ninja Turtles. Ah, men sungguh banyak banget ternyata hal yang gue lewatkan.

Ah, enak banget ya kalau hidup dijalani tidak terburu-buru. Enak banget juga hidup bisa diselingi waktu untuk sekedar santai-santai saja. Yang bisa gue petik adalah terkadang kita suka lupa dengan sekitar kita karena ego kita sendiri.

Ego kita dalam bekerja keras demi mencari uang yang banyak membuat kita lupa dengan keadaan sekitar. Kiita terlalu menghabiskan waktu sampai membuat kita lupa dengan hal-hal kecil. Padahal dari hal-hal kecil itu justru bisa sangat berguna buat hidup kita.

Kedua, menyisihkan waktu untuk sekedar santai kayak di pantai memang sangat-sangat diperlukan, Tetapi jangan terlalu sering, kadang-kadang aja kalau memang lagi jenuh. Jangan sampai kita menghabiskan waktu untuk sebuah hal yang semestinya tak terlalu sering dilakukan, seperti menghabiskan waktu di mal atau hanya sekedar nongkrong tidak karuan.

Hidup tidak terburu-buru memang enak, hidup santai memang lebih enak. Tetapi yang lebih penting itu apa? Hidup yang seimbang. Hidup yang terburu-buru tetapi diselingi waktu santai. Mengatur hidup yang seperti itu memang wajib dilakukan dan dalam tanda petik HARUS ‘dipaksakan’. Sebab, hidup terlalu singkat apabila dibawa terlalu serius ataupun terlalu santai.

I See a world on the edge of a blade. Without Balance, it will fall - Victoria Aveyard






Dagang online

Kamis, 25 September 2014 · Posted in , , ,

Sudah hampir satu tahun sudah gue belajar menjadi pedagang, menjual barang yang diproduksi oleh orang lain dan gue jual melalui kaskus, twitter dan tentunya melalui mulut ke mulut. Kenapa gue sebut diri gue adalah seorang pedagang bukan pebisnis karena pedagang dan pebisnis itu beda. Pedagang adalah seseorang yang menjual barang yang sudah 'ada' lalu dipasarkan kembali. Nah kalo pebisnis adalah seseorang yang menciptakan brand atau merknya sendiri, biasanya pebisnis lebih dahulu mengutamakan membesarkan brand setelah itu baru mementingkan keuntungan. Ini pendapat gue pribadi tentang perbedaan dua pekerjaan ini yang banyak dianggap orang sama. Banyak yang menganggap sama karena toh UUD (ujung-ujungnya duit).

Ya pokoknya mah beda lah *biar cepet*


Dari dulu pengen banget terjun ke dunia dagang atau bisnis dan saat gue menjadi seorang pedagang awalnya gak sengaja. Waktu itu gue ngerasa bosen dengan potongan rambut gue yang potongan belah samping dan ada baiknya mencoba potongan rambut baru dengan potongan ala mafia-mafia di film. Yap. Klimis. Setelah gue potong rambut biar bisa disisir kebelakang tentunya gue butuh minyak rambut yang bisa membuat rambut ini klimis. Biasanya saat kita potong rambut di Barbershop kita ditawarin sama Si tukang potong rambutnya, Mau gak rambutnya dipakein gel?! Gue jawab iya.

Setelah itu gue merasa cukup oke dengan gel tersebut karena mampu membuat rambut gue tertata seperti yang gue mau. Rambut gue termasuk rambut yang bandel dan susah diatur. Sama kaya orangnya yang bandel dan susah diatur, orangnya aja bandel apalagi rambutnya. Hehe. Karena gue tertarik dengan gel tersebut lalu gue nanya: Ini gel dijual gak? Tukang potong rambut tersebut pun dengan lugas menjawab: Iya dijual tuh mas, kami produksi sendiri. Oke gue beli mas! Jawab gue semangat.

Esok paginya setelah gue mandi untuk berangkat kuliah pastinya gue pake itu gel buat rambut baru ini. Secolek dua colek gel tersebut gue pake untuk menata rambut. Gue pun tersadar bahwa memakai gel untuk rambut cukup menyita waktu biasanya gue cuma nyisir aja, lumayan kan waktu 10-15 menit habis hanya untuk menata rambut. Yasudah karena gue takut telat akhirnya gue mikir : "ah, ntar kalo uda sampe kampus jangan langsung masuk kelas, tapi ke WC dulu buat ngaca dan sisiran, nyisir sekarang percuma ntar juga berantakan karena pake helm".

Setelah dikampus dan terlebih dahulu ke WC untuk menata rambut, sejam dua jam gue merasa nyaman dengan rambut gue yang klimis karena gel tersebut, tetapi menjelang siang hari rambut gue jadi loyo dan gue pegang rambut gue ternyata rambut gue kering, khasiat gel tersebut hilang. Ternyata gel tersebut gak sesuai harapan. Harapan gue dengan memakai gel rambut gue jadi basah, kinclong sepanjang hari. Lah ini baru sampe siang aja udah loyo terkadang gue bisa sampe sore dikampus karena nongkrong dulu

Gue cerita sama temen-temen minyak rambut apa yang bisa bikin rambut klimis tahan lama kek mafia-mafia dalem pelem. Temen gue ada yang menganjurkan untuk nyoba merk A, ada yang menganjurkan merk B,  ada yang  menganjurkan merk C, intinya mah sama aja mereka nyebut merk minyak rambut yang jenisnya sama yaitu gel. Gue beranggapan kalo dasarnya gel walaupun berbeda merk ya pasti tetep sama aja atau gak beda jauhlah khasiatnya. Sama halnya dengan menjalin hubungan dengan cewek walaupun ceweknya beda, kalo cowoknya memang dasarnya seru ya hubungannya akan seru begitupun sebaliknya kalo cowoknya gak seru ya hubungannya gak akan seru *apasih* Seru? Emangnye nonton Smack Down!

Yaelah Tong Tong!   Lanjut kagak nih tong ceritanye?! Lanjut Cing! Kentang!

Sore hari setelah gue pulang kekosan gue penasaran dengan minyak rambut apa yang bisa bikin rambut gue klimis. Toh gue sering liat kok banyak cowok yang rambutnya klimis, ya salah satunya ya gue liat mafia-mafia dalem pelem. Gue memang tipikal orang yang suka penasaran dengan suatu hal. Gue pun googling untuk mencari ini. Gue lupa keyword yang gue ketik di google. Sampai pada akhirnya setelah gue berselancar di dunia maya rasa penasaran gue menemukan jawabannya. Minyak rambut yang bisa bikin rambut klimis itu berjenis pomade. Buat yang gak tahu pomade itu apa, pomade  adalah salah satu jenis minyak rambut bukan nama sebuah merk minyak rambut. Setelah gue baca-baca ternyata pomade itu berkomposisikan dari campuran-campuran zat yang bisa buat rambut kita tampak basah, klimis dan berkilau bahkan ada pomade yang mampu membuat rambut bertahan klimis 3 hari asal kita gak keramas. Edyan!

Gue pun nyari dimana aja tempat yang jual minyak rambut berjenis pomade ini, gue pun menemukan akun-akun twitter penjual pomade. Merknya beraneka ragam dan dikemas dengan kemasan yang eye-catching. Karena gue anak kosan, apa yang ada dibenak gue saat itu cuma satu yaitu how much money will i spend to buy a pomade? Ternyata mahal bro! mahal! harga pomade itu kisaran 100ribu-300ribu. Gila. Gue sih bisa aja beli tapi berhubung gue anak kosan yang kebutuhannya banyak ya masih pikir-pikir buat beli. Gue selidikin lagi kenapa pomade ini mahal banget harganya, ternyata pomade-pomade yang dijual itu adalah pomade buatan luar negeri. Mayoritas buatan Amerika. Padahal di Amerika sono harganya murah banget cuma 3-7 dolar. Tentunya barang yang masuk ke Indonesia jadi mahal karena biaya pengirimannya. Gue masih pikir-pikir buat beli dan akhirnya gue mikir ada gak pomade buatan Indonesia pasti murah kalo buatan lokal. Gue pun mencari lagi pomade buatan Indonesia via Google.

Ternyata cukup banyak pomade buatan Indonesia, beruntungnya saat itu ada banyak blog yang berisikan review tentang pomade Indonesia. Hampir di semua review mayoritas menyatakan bahwa kelemahan pomade Indonesia adalah baunya menyengat bahkan ada yang bilang baunya seperti Kakek-kakek walaupun hold and shine yang dihasilkan pomade Indonesia sangat baik saat digunakan dirambut, tapi percuma rambut klimis dan kinclong tapi bau kakek-kakek. Tahu kan pomade apa yang sering dipake sama kakek-kakek? Gue gak mau sebut merk. Gue gak putus asa buat nyari tahu, mungkin karena jodoh juga lalu ketemulah satu pomade buatan Indonesia. Berbagai review yang ada di internet bilang bahwa pomade ini berbeda dengan pomade Indonesia lainnya, terutama untuk masalah wangi. Wanginya enak untuk sekelas pomade buatan lokal, tingkat ketahanan dan kilau untuk digunakan di rambut yang dihasilkan dari pomade ini pun bisa bersaing dengan pomade lainnya.

Gue googling lagi dimana tempat gue bisa dapetin pomade ini, ternyata di google rank teratas muncul website pabrik tempat produksi pomade tersebut. Gue langsung buka website pabrik pomade ini dan ternyata harga pomade satu lusin itu memang murah. Disinilah naluri dagang gue yang terpendam keluar dan kebetulan pabrik tersebut mengharuskan konsumen harus membeli minimal satu lusin. Berhubung murah gue bakal pesen satu lusin, satu pomade akan gue pake sisanya akan gue coba jual secara online dan gue tawarin ke temen-temen.  Pabrik pomade tersebut ternyata berada di Surabaya dan ongkos kirim dari Surabaya ke Bandung gak terlalu mahal. Satu lusin pomade dengan biaya ongkos kirim hanya menghabiskan uang sekitar 145ribu aja. Harga lusin pomade tersebut tanpa ongkir sekitar 108000. Kalau dibagi berarti harga satuannya 9000. Gue pun nekat untuk menjualnya kepasaran dengan harga satu pomadenya 25ribu. 25 ribu dikali 11 = 275ribu, lumayan kan buat anak kosan hehe. Itu itung-itungan gue walaupun pada saat itu gue gak tahu pomade ini bakal laku atau nggak, tapi dalem hati kecil gue berucap mungkin ini jalan dari Tuhan untuk gue belajar berdagang.

Setelah gue telpon Contact Person yang ada di website pabrik buat mesen, orang pabrik tersebut bilang kemungkinan pengiriman barang dari Surabaya ke Bandung sekitar 2/3 hari. Ok No problemo. Sembari menunggu proses pengiriman gue belajar untuk memasarkan secara online, ternyata belum terlalu banyak orang yang menjual pomade ini. Gue jadi optimis pomade ini bakal laku dipasaran karena belum banyak yang jual dan pomade ini harganya terjangkau. Gue buat thread di forum jual beli kaskus, gue buat akun twitternya untuk berjualan. Lucunya saat itu adalah gue udah buat thread di kaskus dan akun twitter padahal pomade yang akan gue jual masih dalam proses pengiriman dan belum sampe tangan gue. Aneh ya. Setelah gue buat thread di kaskus dengan menyertakan didalamnya nomor handphone gue, keesokan harinya ternyata ada yang sms : "Gan, ini yang jual pomade ya? ane mau dong pesen satu mau nyoba plus ongkir ke jakarta jadi berapa gan kalo kirim pake JNE?

Oh My god! betapa senengnya gue saat itu. Padahal gue saat itu kurang paham dengan proses jual beli via online ini. Gue memang jarang banget belanja online. Gue agak lama bales sms itu karena mau mencari tahu biaya ongkir dari Bandung ke Jakarta berapa, ternyata biaya ongkirnya 9ribu. Selain seneng karena dapet sms tersebut gue juga bingung karena pomadenya sendiri belum ada ditangan gue. Yasudah guepun memutuskan untuk jujur ke orang yang sms tadi. "harga pomadenya 25ribu, ongkir ke jakarta 9 ribu total jadi 34ribu gan tapi pomadenya belum ada di ane nih, masih otw dari pabrik kalo mau nunggu gan, palingan besok atau lusa udah bisa ane kirim ke agan pomadenya. Isi sms gue barusan dibales lagi yang isinya "oh yaudah gan gpp, ane ntar sms lagi deh, ane book 1 ya gan" Ok gan! Jawab gue. Baru sehari gue buat thread di kaskus udah ada yang mesen aja.

Beberapa jam setelah gue menerima sms tadi eh ada lagi yang sms mau mesen pomade. Kurang lebih isi sms nya sama dengan isi sms yang gue terima sebelumnya dan gue bales kurang lebih juga sama. Ternyata oh ternyata udah banyak aja yang mesen. Rejeki anak sholeh yang kurang ngajar nih! Kelanjutan cerita ini akan gue terusin di postingan selanjutnya.

Penasaran Gak? Gak Tuh! WLEEK!

BERSAMBUNG

Pesta Rakyat Bernama Pilkada

Kamis, 18 September 2014 · Posted in

Setiap perhelatan pemilihan kepala daerah hampir di seluruh daerah yang ada di Indonesia seperti sedang melaksanakan sebuah pesta. Rakyat antusias memberikan suara kepada calon kepala daerah yang dianggap mampu membawa perubahan untuk daerahnya. Setelah melakukan pencoblosan dan mencelupkan jari kelingking ke tinta sebagai tanda telah mencoblos lalu difoto dan diupload dengan antusias ke media sosial. Selayaknya menunjukkan kepada dunia bahwa telah mengikuti sebuah pesta. Namun, apabila RUU Pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD telah disahkan oleh DPR tidak akan ada lagi foto dengan objek jari kelingking yang bertinta ungu di setiap media sosial nantinya. Rasa ingin berpartisipasi untuk memilih pemimpin di daerahnya terenggut, satu hak rakyat Indonesia akan hilang. 
Koalisi Merah Putih yang menjadi mayoritas duduk di Senayan seperti sedang membawa Indonesia kembali ke masa lalu. Alasan utama adalah Pilkada secara langsung menelan biaya besar dan dengan pilkada dipilih oleh DPRD mampu menekan biaya besar tersebut. Segala hal yang berbau finansial rakyat tidak mudah percaya dengan DPR. Perlu diingat pada tahun 2012 DPR menghabiskan dana 2 Miliar hanya untuk merenovasi toilet. 
Apakah DPR dan DPRD akan menjamin bahwa dengan disahkannya RUU Pilkada Tidak Langsung ini mampu digunakan untuk kepentingan rakyat dan pemimpin daerah yang dipilih oleh DPRD tersebut mampu menjadi pemimpin yang amanah. Rakyat pun ragu dengan hal tersebut sehingga bermunculan di berbagai daerah aksi penolakan terhadap Pilkada Tidak Langsung ini. 

Koalisi Merah Putih kemungkinan besar akan mampu memenangkan setiap calon kepala daerah di setiap daerah apabila RUU ini disahkan karena mayoritas anggota DPRD yang terpilih berasal dari partai yang tergabung dalam koalisi ini. Rakyat takut pemimpin di daerahnya bukan seperti daerah lain yang sudah menemukan pemimpin idamannya dari hasil Pilkada langsung. Sekedar contoh bagaimana beberapa Provinsi/Kota di Indonesia sudah menemukan pemimpin idamannya. Tengok bagaimana Kota Bandung setelah satu tahun dipimpin oleh Ridwan Kamil seorang Walikota produk hasil Pilkada Langsung yang Juni lalu mendapatkan penghargaan sebagai salah satu walikota terbaik dunia dalam Forum Young Leader Sumposium World Cities Summit di Singapura. Walikota yang akrab disapa Kang Emil ini pada Pilkada kota Bandung tahun lalu hanya diusung oleh 2 Partai yaitu Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra. 

Apabila saat itu pemilihan dilakukan oleh DPRD Kota Bandung kemungkinan besar Kang Emil tidak akan terpilih karena PKS dan Gerindra hanya memiliki 12 kursi dari total 50 kursi di DPRD Kota Bandung, tidak bisa dibayangkan apabila yang terpilih saat itu adalah kroni dari Dada Rosada, mantan Walikota Bandung yang kini sedang menginap di hotel prodeo karena kasus penyuapan hakim terkait dana Bansos. Hanya diusung 2 partai mungkin sulit untuk Ridwan Kamil memenangkan Pilkada Kota Bandung karena kurangnya finansial dan kurangnya kekuatan dari partai namun dengan mampu meyakinkan warga dengan kampanye kreatif tanpa dana yang besar sehingga berhasil memenangkan Pilkada Kota Bandung. Bukti lain bahwa Pilkada langsung menghabiskan dana yang melimpah dan mengakibatkan money politics bisa dihindari dengan kampanye kreatif dan sosok figur lebih besar dampaknya untuk memenangkan Pilkada.

Perubahan drastis telah terjadi di Kota yang dijuluki Paris Van Java tersebut. Program Index of Happiness yang dicanangkan Ridwan Kamil sebagai jurus dalam penataan fasilitas dan ruang publik untuk meningkatkan kebahagiaan Warga Bandung.

Jokowi-Basuki di DKI Jakarta, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Bima Arya di Bogor, Tri Rismaharini di Surabaya adalah nama-nama lain pemimpin daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Nama-nama diatas sudah mampu memberi contoh bahwa apabila rakyat berkehendak baik semua akan berujung dengan kebaikan pula. Pemimpin-pemimpin yang disebutkan diatas seharusnya dapat dijadikan contoh oleh daerah lain untuk memilih pemimpin yang memang bekerja untuk rakyat bukan bekerja untuk dirinya sendiri dan kelompoknya semata terlebih memilih calon pemimpin hanya karena telah menerima uang dari tim sukses peserta Pilkada.

Figur-figur diatas pula sudah mendeklarasikan diri untuk menolak disahkannya RUU Pilkada tidak langsung padahal sebagian dari mereka diusung saat Pemilihan Kepala Daerah bahkan sebagian adalah kader dari partai yang tergabung dalam koalisi merah putih. Basuki Tjahaya Purnama sendiri sudah mengundurkan diri dari Partai yang mengusungnya pada Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu yaitu Partai Gerindra karena tidak sepaham dengan Partai yang didirikan oleh Prabowo Subianto tersebut. Sebuah bukti dimana Mantan Bupati Belitung Timur tersebut menjadikan rakyat sebagai tuan besar bukan elite partai. Jika memang partai politik memiliki kebijakan yang dianggap merugikan rakyat sebaiknya tidak diamini semata oleh para kader partai tersebut tetapi harus mampu melawan kebijakan tersebut dan mengingat bahwa kepentingan rakyat adalah segalanya.  

Pilkada adalah sebuah pesta rakyat. Apabila rakyat dilarang untuk berpesta, rakyat Indonesia tidak akan segan untuk turun ke jalan berorasi menuntut haknya agar bisa berpesta kembali.   

PILPRES 2014

Sabtu, 12 Juli 2014 · Posted in ,

Wasaaap!

Edan.Rindu menulis diblog ini. Nyari mood untuk menulis memang susah, mungkin karena ini bulan Ramadhan, mood jadi bagus buat nulis. Tsaah!

Langsung bro tak perlu basa-basi gue mau bahas pilpres yang baru aja diselenggarain 3 hari lalu. Gue awalnya mencoba untuk netral dalam pilpres kali ini, netral disini gue jadiin alesan ketika ditanya sama orang-orang gue bakal pilih siapa. "Lo milih siapa nih?" Ah. gue mah netral cukup gue yang tahu siapa yang bakal gue pilih" jawab gue. Lalu pada akhirnya gue pun mempublikasikan ke orang-orang gue bakal pilih siapa. Alesannya ada beberapa hal. Pertama adalah ketika debat Capres pertama, setelah debat selesai, gue langsung membuka feeds BBM untuk melihat update status dari temen-temen, ada seorang temen yang nulis status : "Wihh, keren nih prabowo". Gue nyengir ketika membaca status temen gue tersebut (sebut saja nama temen gue ini Si Joni) Dalem hati gue cuma bilang "oh, si joni dukung prabowo toh". Gue gak memberikan komentar apapun terhadap pilihan Si Joni tersebut, karena gue menjunjung demokrasi itu hak dia untuk memilih, mungkin saja Si Joni menganggap Prabowo memang sosok yang ideal buat memimpin Indonesia. Walaupun pastinya Si Joni ini tidak mencari tahu track record Prabowo terlebih dahulu. Nah yang lucunya Si joni ini buat status lagi, statusnya gini "Ah, siapapun capresnya terserah deh, yang penting bisa ngatur PSSI biar sepakbola Indonesia bener". Kurang lebih seperti itu statusnya. Kali ini gue gatel buat komentar, karena dia gak tahu bahwa Mantan Ketua PSSI Nurdin Halid adalah salah satu tim sukses pasangan Prabowo-Hatta. Gue langsung chat dia, begini kurang lebih isi chat tersebut :

Gue : Nurdin Halid ada dibelakang Prabowo Hatta, bro!
Si Joni : Serius lo?
Gue : Iya. Kalo gak percaya googling aja, dia kan kader golkar juga.
Si Joni : Wah. Gak jadi deh gue pilih prabowo. Tapi masa iya sih, jokowi yang jadi presiden, masa punya presiden klemar-klemer gitu.
Gue : Klemar-klemer kan cuma fisik aja, bro. Lo liat juga tuh orang-orang yang ada dibelakang prabowo, banyak politisi yang terkena kasus. Ical, Suryadharma Ali, Nurdin Halid dan masih banyak yang lain. Mau lo kalo Prabowo kepilih, terus mereka ada di Pemerintahan? Bayangin kalo Nurdin Halid kembali memimpin PSSI? Bisa aja kan?

Lalu Si joni hanya read dan tidak membalas. 

Mungkin Ia merenung membaca chat dari gue, atau banyak mencari tahu tentang Prabowo dan orang-orang yang ada di tim sukses Prabowo. Entahlah. Sampai pilpres menjelang kamipun tidak pernah chating lagi. Pada akhirnya sehari sebelum pilpres Si Joni chat gue "salam 2 jari" Itu yang dia chat, gue cuma bales dengan emot senyum. Lalu malem hari setelah pilpres berlangsung Si Joni buat status : "Jokowi = Jelek difisik, mulia dihati. Barakallah #salam2jari" 
Gue masih inget sama statusnya, iyalah inget soalnya ampe gue nulis ini statusnya masih ada. Haha.

Seenggaknya yang bisa dipetik dari kisah Si Joni ini adalah gue mampu memberikan informasi yang real kepada Si Joni dan karena itu aku sedikit bangga dengan diriku ini. Padahal diri ini hanyalah sebutir pasir di sebuah padang pasir yang luas. Halah. 
Awalnya gue menghargai pilihan Si Joni untuk mendukung Prabowo, tapi ternyata yang gue takutin memang terjadi dengan orang-orang yang memutuskan memilih Prabowo daripada memilih Jokowi. Banyak orang yang memilih Prabowo karena Ia pantes jadi presiden hanya dilihat dari fisik, penampilan, gaya berbicara, tegas, wibawa, ganteng, gagah, hal-hal ini memang tidak ada di Jokowi yang wajahnya ndeso, kurus, yang intinya tidak pantes jadi presiden kalo dilihat dari fisik. Pertanyaan gue adalah lo mau milih seorang presiden apa mau milih seorang kontestan dalam sebuah ajang pencarian bakat? Fisik kok diutamain. Grrr. 

Ini kisah nyata yang gue alamin tentang pilpres kemaren, gak gue dramatisir. Gue juga berharap Si Joni gak baca blog ini. Haha.

Hal kedua mengapa akhirnya gue mempublikasikan siapa yang bakal gue pilih adalah sudah sedikit dijelasin di hal yang pertama diatas. Bentar, kok gue jadi keliatan sok ngartis gini ya, sok mempublikasikan pilihan gue. Gini-gini soalnya banyak orang yang nanya, siapa yang bakal gue pilih, dulu gue cuma jawab "gue mah netral cuy". Jadi bukannya sok ngartis ye. Hal kedua adalah kenapa gue mempublikasikan pilihan gue yang gak milih Prabowo dalam pilpres adalah ya itu tadi, banyaknya orang-orang yang tersandung masalah dan gue gak mau ketika Prabowo menang lalu mereka yang banyak terkena kasus tersebut ada di pemerintahan. Kubu Jokowi pun ada yang menurut gue tersandung masalah, tapi gak sebanyak yang ada di kubu Prabowo. Pilpres kali ini gue anggep bukan mencari yang terbaik tapi mencari yang mendingan untuk memimpin negara ini.

Hal ketiga yaitu bisa dilihat dari twit gue ini.

Red: Gue bukan orang tegal ya

Prabowo memang menjadikan Soekarno sebagai kiblat fashionnya, tapi kiblat pemikirannya mengarah ke Soeharto dan orba. Foto itu juga diupload di path gue dengan caption : "Gue gak milih capres yang mau bawa Indonesia balik ke zaman orba". Temen-temen gue yang pro prabowo tidak ada satupun yang komentar, padahal gue menunggu  ada yang komentar tentang prabowo dan orba, kalo ada yang komentar gue siap nraktir mereka untuk ngopi-ngopi setelah buka puasa untuk sekedar diskusi santai tentang orba yang gue tahu. Sayangnya gak ada yang komentar satupun. Haha.

Twit tersebut juga membuktikan gue gak golput dan 3 hal diatas sudah bisa sedikit menjelaskan kenapa gue gak milih Prabowo.

Tiga hari berlalu setelah pilpres kita dibingungkan dengan hasil quick count. Menurut hasil quick count dari berbagai lembaga survei yang banyak dianggap kredibel pasangan nomor urut 2 Jokowi-JK sebagai pemenang. Yah, tapi tetep deh kita tunggu aja 22 Juli nanti ya, hasil resmi dari KPU.

Kalo emang bener Jokowi-JK yang menjadi pemenang dalam pilpres 2014 ini dan menjadi Presiden dan Wakil Presiden kita selanjutnya berarti kita gak perlu takut untuk mengkritik mereka apabila suatu saat nanti setelah menjabat Presiden dan Wakil Presiden mereka melakukan suatu kesalahan, mungkin mereka bisa menerima kritik dan kita sebagai rakyat gak perlu takut DICULIK kalo mau mengkritik. Upps.

Faktanya Adalah...

Jumat, 29 November 2013 · Posted in


"Ilmu pengetahuan belum pernah bisa seratus persen bebas dan netral dari pengaruh dan kepentingan politik-ekonomi negara-negara, korporasi dan kekuatan-kekuatan global lainnya"




Gimana menurut Lo?

Diberdayakan oleh Blogger.